NeoBux

Tuesday, July 24, 2012

Cuci Dosa di Bulan Puasa

Ada sebuah kepercayaan bahwa bulan Ramadhan bisa menghapuskan dosa dan di hari Idul Fitri kita bisa kembali suci, tanpa dosa, seperti bayi yang baru lahir. Karena “diskon gratisan” dari Tuhan tersebut, ada yang salah menafsirkannya dan merasa begitu ringan, menganggap semua dosa akan dihapuskan tanpa usaha.

Semua orang yang berpuasa pasti memiliki tujuan akhir yang sama, tujuan akhir itu adalah Idul Fitri. Ketika kita berpikir apa makna dari puasa itu? Apakah ini untuk menyucikan diri dan kembali menjadi insan yang bersih tanpa noda? Atau hanya sekadar menjalankan kewajiban tanpa tahu roh yang ada di dalamnya? Atau hanya sekadar perasaan  tidak enak karena tidak ikut berpuasa?

Saya tidak akan menggunakan dalil ayat ataupun hadits di sini.  Saya bukan ahlinya. Cukup dengan menggunakan logika sederhana. Logikanya begini. Jika seseorang ingin mencuci baju sampai benar-benar bersih, ada dua cara. Cara pertama menyikat baju itu sampai benar-benar bersih, atau memakai cairan pembersih dan merendamnya agar bersih dalam sekejap.

Pertanyaan selanjutnya, apakah Tuhan benar-benar memberikan diskon yang semurah itu pada hambaNya? Tanpa melihat upaya dan kesungguhannya? Ibadah puasa adalah ibadah hati yang bersifat rahasia, yang mengetahuinya hanya si pelaksana dan Tuhan yang Maha Melihat isi hati.

Menurut saya, alangkah bodohnya jika kita berpikir bahwa kita akan dicuci bersih di hari Idul Fitri. Cuma melakukan puasa, lalu kembali menjadi bayi yang baru lahir, seperti kertas putih tanpa satu coretan apapun. Tuhan tidak memberikan diskon tanpa melihat usaha hambanya.

Bisa saja seseorang yang benar-benar berpuasa, menyerahkan jiwa raganya secara penuh tidak diampuni Tuhan. Tuhan kan Maha segalanya, kita tidak pernah tahu dia mengampuni ummatnya atau tidak. Yang jelas kita harus terus memohon ampun dan beribadah.

Rasulullah saja sempat ditanya oleh para sahabat ketika kaki beliau bengkak-bengkak akibat sholat puluhan rokaat dalam semalam. Rasulullah ketika itu menjawab bahwa dia saja yang Ma’shum dan dijamin masuk surga saja masih melakukan ibadah setekun dan sedalam itu. Bagaimana dengan kita ummatnya?

Jika Rasulullah saja masih melakukan ibadah sekeras itu. Seharusnya kita merasa malu jika kita menganut kepercayaan cuci dosa di bulan puasa. Dengan logika sederhana lagi, kita harusnya melakukan ibadah sampai kaki kita bengkak-bengkak baru bisa diampuni. Itupun belum menjadi jaminan, karena ampunan memang sepenuhnya datang dari Yang di atas.

Kesimpulannya, kita harus kritis. Dengan kepercayaan yang berkembang di keseharian kita. Jangan sampai Ramadhan yang seharusnya indah malah jadi tercoreng karena ketidak mampuan kita memaksimalkannya. Kalaupun ada yang mempercayai itu, saya tidak menyalahkan. Itu hak siapa saja untuk mempercayai itu. Tetapi sekali lagi, kita perlu berpikir bahwa Tuhan tidak akan memberikan diskon yang sangat murah tanpa melihat usaha dan ibadah hambanya. Tidak ada cuci-cuci dosa tanpa ada usaha sama sekali.
Kalau ada yang kurang berkenan, mohon maaf. Kalau ada yang salah tolong dikoreksi.

Semoga bermanfaat.
Post a Comment
Terima Kasih Sudah Mau Mampir Di Rumah Maya Ini & Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Anda
Back to Top